Selamat Datang di Blog ini, sebagai sarana silaturahmi, berbagi informasi dan Ilmu

Kamis, 10 Maret 2011

Ikut Serta Survey "Situs Web Akper Sintang"

0 komentar


Asalamualaikum.....

Untuk teman-teman Seluruh keluarga besar Akper Sintang, diminta untuk partisipasinya dlam pengisian Survey Situs Web yang sedang di kembangkan dan di kelola oleh bapak M. Ikhsan, SKM.

Ayo kita dukung akan segera di launching Website Resmi Kampus Kita, Untuk teman-teman langsung saja kita ke TKP.

Gambaran Kuesioner yang harus teman-teman isi :

Untuk Mengikuti Survey klik DISINI

KUESIONER SKALA USABILITAS/KEBERGUNAAN SITUS WEB AKPER SINTANG

Kuesioner ini diajukan dalam rangka Penelitian Pengembangan Situs Web Akper Sintang Menggunakan Web Site Design Method. Kuesioner ini disusun untuk menilai kemudahan, efesiensi dan kepuasaan terhadap situs web Akper Sintang. Silahkan untuk mengisi formulis dibawah ini setelah ada mengakses situs web Akper Sintang yang beralamat di http://www.akper-sintang.sintang.biz Terima Kasih telah berpartisipasi mengisi kuesioner ini M. Ikhsan
* Required

Silahkan mengisi kuesioner dengan memilih salah satu pilihan jawaban yang disediakan





Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju



Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju



Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju



Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju



Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju



Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju



Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju



Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju



Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju



Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju


Catatan

Kuesioner ini didasarkan pada System Usability Scale (SUS), yang dikembangkan oleh John Brooke pada saat bekerja di Digital Equipment Corporation. © Digital Equipment Corporation, 1986.


Jangan lupa kasih komentar yang bermanfaat ya.......

Salam sukses


Wagiran, Amd.Kep

Rabu, 09 Maret 2011

Tips " Mau anak Cewek apa Cowok"

1 komentar


Bulan- Bulan terakhir ini banyak sekali teman-teman angkatan yang mengakhiri masa lajangnya. Selamat semuanya semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah.

Terima kasih atas undangannya,
1. Elvrida Aprilani Wardi, Amd.Kep & Adi Darmadi
2. Maria Feri Rina, Amd.Kep & Yakobuz Dozy, SKM
3. Wartika Sari, Amd.Kep & Briptu Devi Wahyudi
4. Yunida Haruyanti, SST & Khairil Anwar
5. Marfuah, Amd.Kep .....................
6. Mila Eka W, Amd.Kep & Fahmi
7. Dan lain-lain...

Berhubung dengan itu, Pada tips kali ini, Saya memberikan Tips pilihan ingin mendapatkan anak laki - laki atau anak perempuan ? emang ada caranya? Macam dah nikah ja hehehehe, Simak Ya.........

Bibit yang sehat itu intinya, perma dari laki-laki adalah pembawa dua macam sperma yaitu sperma (Y) dan sperma (X). Sperma (X) bila bertemu dengan sel telur dan terjadi pembuahan maka akan menghasilkan anak PERMPUAN.

Sperma (X) ini kalau dilihat dibawah mikroskop bentuknya agak lebih besar dari sperma (Y), lebih dapat bertahan hidup dalam vagina dan dalam suasana asam ( lebih tahan Asam )

Sedangkan sperma (Y) kalau dilihat bentuknya agal lebih kecil dan tidak tahan terhadap suasana asam ,bila membuahi sel telur akan menghasilkan anak laki - laki.

Nah ..jadi dengan mengetahui sifat dari sperma X dan sperma Y , kita dapat mengatur (kalau boleh) untuk ingin mendapatkan anak laki -laki atau anak perempuan.

Kata kuncinya adalah sperma (X) tahan Asam untuk anak PEREMPUAN dan sperma (Y) tidak tahan asam untuk anak LAKI - LAKI..!

Maka dengan menentukan suasana Vagina maka kita dapat menentukan apakah sperma (X) atau sperma (Y) yang akan dapat membuahi sel telur .

Untuk Anak Laki - laki :
  1. Dianjurkan suami makan yang bersifat protein tinggi, seperti daging dan istri dianjurkan makan yang bersifat netral atau tidak asam seperti sayuran dsb nya
  2. Senggama dilakukan pada masa subur sebaiknya mulai pada hari ke 2 dari masa subur.
  3. Lima belas sampai dua puluh menit sebelum senggama bilaslah vagina dengan campuran 1 sendok ( 15 cc ) Soda Kue dengan 200 cc air putih yang bersih.

Untuk Anak Perempuan :
  1. Dianjurkan suami makan banyak sayuran dan istri makan daging yang dapat memberikan suasana asam alamiah pada vagina.
  2. Senggama dilakukan pada masa subur ,dianjurkan mulai hari ke 2 pada masa subur.
  3. Lima belas sampai dua puluh menit sebelum senggama, bilaslah Vagina dengan campuran satu sendok asam cuka dapur( 15 cc ) dengan 200 cc air putih bersih.
Keberhasilan cara ini dapat mencapai 70 sampai 80 % ( Katanya)

SELAMAT MENCOBA

Wagiran, Amd.Kep

Sumber. Nusaindah

Rokok Vs Nginang/Nyuruh

0 komentar


Tadi malam teringat sama tetangga yang suka Nginang/ Nyuruh. Jadi punya ide ingin membandingkan dengan rokok. Karena dua-duanya tidak lepas dari tembakau. Cuma bedanya satunya di bakar dan satunmya di kunyah. Berikut sedeikit ulasannya semoga bermanfaat.

Tradisi mengunyah tembakau dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia maupun dunia. Salah satunya di Jawa Tengah dan sekitarnya, yang populer dengan istilah nginang atau nyusur.

Saat nginang, tembakau tidak digunakan sendirian melainkan ada campurannya. Di antaranya adalah endapan kapur (Jawa: njet), buah pinang, daun gambir dan tidak lupa daun sirih.

Masyarakat meyakini, tradisi ini memberikan manfaat bagi kesehatan gigi dan mulut. Meski belum banyak penelitian tentang dugaan tersebut, kebanyakan penginang memang memiliki mulut yang sehat serta gigi yang kuat meski berwarna agak kekuningan.

Anggapan ini mungkin ada benarnya, sebab beberapa campurannya yakni gambir serta daun sirih dikenal sebagai antiseptik. Senyawa fitokimia yang terkandung di dalamnya dapat mencegah pertumbuhan kuman-kuman penyebab sakit gigi dan bau mulut.

Selain itu nginang juga menggunakan endapan kapur sebagai campuran. Endapan yang telah membentuk pasta ini mengandung kalsium, yang diyakini punya manfaat bagi kesehatan gigi dan tulang.

Sampai di sini, manfaat nginang belum terbantahkan. Namun masih ada satu komponen lagi yang pastinya kontroversial, yakni tembakau. Jika tembakau dikatakan berbahaya ketika dalam bentuk rokok, apakah hal yang sama berlaku juga dalam nginang?

Seperti dilansir dari ncbi.nlm.nih.gov, Senin (31/5/2010) sebuah penelitian pernah dilakukan oleh National Board of Health and Welfare (1997) untuk melihat hal itu. Ternyata pada smokeless tobacco (produk tembakau non-rokok) termasuk nginang, dijumpai risiko kesehatan yang sama dengan merokok meski sedikit lebih kecil.

Risiko penyakit jantung dan pembuluh darah pada smokeless tobacco meningkat 2 kali lipat dibandingkan ketika tidak mengonsumsi tembakau. Sedangkan pada rokok, risiko terebut meningkat 3 kali lipat.

Selain itu, smokeless tobacco dapat meningkatkan tekanan darah sehingga memperbesar risiko hipertensi. Hal yang sama juga terjadi pada rokok.

Karena dampak negatifnya lebih kecil, dalam hal ini nginang bisa dikatakan lebih aman dibandingkan rokok. Apalagi dampak tersebut hanya dialami oleh yang bersangkutan, tidak seperti rokok yang mengenal istilah perokok pasif.

Jika dari sisi kesehatan dampak negatif nginang sudah ditemukan, dampak negatif dari sisi lingkungan sebenarnya juga ada.

Salah satu komponen dalam nginang adalah pinang, yang mengandung alkaloid bernama arecoline. Senyawa ini akan memberi warna yang khas pada air liur saat nginang, yakni merah terang.

Kebiasaan buruk di desa-desa adalah meludah sembarangan. Dengan warna air liur yang semacam itu, kebiasaan itu tentu saja akan meninggalkan noda berupa bercak merah di mana-mana. >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Dari Ulasan diatas, silahkan teman-teman analisa apa kesimpulannya, tentunya pasti semua pernah lihat perokok dan penginang. atau malah anda sendiri pelakunya, hehe......

Hentikan dari sekarang kalau ini ga baik ya...

Semoga bermanfaat.

Wagiran, Amd.Kep


Source : detikhealth

Senin, 07 Maret 2011

Tips Sehat " Hal-hal kecil yang bikin sehat "

1 komentar


Assalamualaikum.
Teman-teman bagaimana kabarnya semua. pasti semua sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Sehingga kadang untuk makan saja samapi telat. Nah berikut saya akan memberikan beberapa tips sehat, yang berupa hal-hal kecil yang dilakukan di pagi hari bisa membuat hari menjadi menyenangkan dan berdampak positif bagi kesehatan. Tapi sayang biasanya kita menghabiskan waktu di pagi harinya dengan tergesa-gesa sehingga tidak memperhatikan hal-hal kecil tapi penting ini.

Berikut ini adalah hal-hal yang sebaiknya dilakukan di pagi hari dan berdampak pada status kesehatan yang lebih baik, seperti dikutip dari Livestrong, Jumat (4/3/2011)

Jangan terburu-buru agar tidak stres

Stres bisa datang kapan saja tanpa memandang waktu, tapi beberapa pemicu stres ini bisa dihilangkan atau dihindari.

Terburu-buru mempersiapkan diri untuk bekerja bisa menimbulkan ketegangan mental dan fisik yang sebenarnya tidak diperlukan. Hal ini secara tidak langsung akan memicu terjadinya stres di pagi hari.

Salah satu penyebab utama stres adalah kewalahan dengan terlalu banyaknya hal yang harus dilakukan. Mayo Clinic menuturkan stres di pagi hari bisa menyebabkan sakit kepala, penurunan kekebalan tubuh dan juga kondisi serius lainnya seperti tekanan darah tinggi.

Agar bisa memiliki kesehatan yang lebih baik, maka cobalah memulai hari dengan lebih santai, memberi waktu bagi tubuh untuk menyesuaikan diri sehingga seseorang tidak perlu terburu-buru beraktivitas. Serta luangkan waktu setiap pagi untuk merencanakan 2-3 hal yang akan dilakukan, karena perencanaan bisa membantu menghindari stres yang berakibat negatif bagi tubuh.

Jangan lupa sarapan

Studi tahun 2005 oleh University of Nottingham di Inggris menemukan bahwa sarapan di pagi hari bisa menghindari lonjakan kolesterol jahat (LDL) serta peningkatan resistensi insulin.

Untuk itu jika ingin memiliki tubuh yang sehat dan bisa menjalani hari dengan lebih baik, kegiatan sarapan sebaiknya tidak ditinggalkan.

Menggerak-gerakkan badan 15 menit

Berolahraga di pagi hari membuat tubuh meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas fisik. Tak perlu banyak waktu cukup 15 menit menggerak-gerakkan badan tiap pagi.

Jika olahraga dilakukan sebelum sarapan maka akan memberikan manfaat tambahan bagi kesehatan.

Studi tahun 2010 oleh Research Centre for Exercise and Health di Belgia menemukan bahwa olahraga bisa memperbaiki sensitivitas glukosa dan berguna bagi otot.

Selamat mencoba tips ini

Sumber : http://health.detik.com/read/2011/03/04/075223/1584308/766/hal-hal-sepele-tapi-penting-dilakukan-tiap-pagi

Wagiran, Amd.Kep

Minggu, 20 Februari 2011

Lowongwn Pekerjaan Di RSUD Sekadau

1 komentar


Assalamualaikum Warohmatullahi wabarokatuh

Apa kabar teman-teman seperjuangan, bagi teman-teman yang saat ini masih belum mendapatkan pekerjaan, ada lowongan/ penerimaan perawaat di RSUD kab. sekadau.

Sekedar Informasi tadi pagi dapet SMS dari teman disana dicari 6 orang perawat kontrak, bagi yang berminat segera masukkan lamaran langsung ke bagian pelayanan di RSUD Kab. Sekadau Beralamat di jalan lintas Sekadau- Sintang Pal 7. Masukkan lamaran dan tes aklan dilaksanakan dalam minggu ini. Tanggal 21-26 Februari 2011.

Untuk Informasi lebih lengkap bisa menghubungi rekan kita disana :

1. Raymond Sandya (085751192621)
2. Yuni Sulawati (085750972146)
3. Wagiran (085252182090)

Ok semoga bagi yang berminat lulus tes ya, dan bagi yang dapat informasi ini segera hubungi teman- teman kita yang lagi cari kerja.

Semoga sukses ya


Wagiran, Amd.Kep

Jumat, 04 Februari 2011

WEBSITE Akper Sintang akan muncul kembali

0 komentar


Teman teman Alumni Akper sintang dimanapun berada apa kabar semuanya. Maaf nih dah lama ga up date blog kita karena lumayan sibuk juga kerjaan...

Belum lama ini salah satu Dosen di Akper Sintang mengadakan Kuesioner untuk mengaktifkan kembali website kampus yang dulu pernah dirancang. Beliau menyampaikan agar kiranya kita sebagai alumni bisa memberikan kontribusi untuk pembuatan website ini.

Adapun Kuesioner yang beliau sebarkan seperti dibawah ini :

Kuesioner ini dilaksanakan dalam rangka penelitian "Pengembangan Situs Web Akper Sintang menggunakan metode We Site Design Method". Kuesioner ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penggunaan internet di lingkungan Akper Sintang dan orang-orang yang berhubungan / mempunyai kepentingan dengan Akper Sintang. Dalam penelitian ini kerahasian indentitas dan jawaban yang diberikan responden, hanya dipergunakan untuk kepentingan penelitian.
Terima Kasih atas kesediaan anda mengisi kuesioner ini.

M. Ikhsan









Untuk lebih jelasnya silahkan teman-teman langsung saja menghubungi pak Ikhsan.

Sekedar berbagi cerita, memang internet sudah menjadi kebutuhan pokok bagi mahasiswa karena sangat membantu sekali dalam menyelesaikan tugas-tugas. Namun memang yang positif akan selalu di barengi dengan yang negatif, sehingga yang seharusnya menjadi sarana pembelajaran malah menjadi sarana penghancuran moral khususnya.

Langkah apa sebenarnya yang harus kita ambil ????? kita sebagai generasi yang berpendidikan ayo kita bawa ke arah yang baik. mau kan?

semoga nanti setelah website kampus ada, kita bisa manfaatkan sebagai sarana belajar, informasi dan komunikasi.

met bekerja semua teman-teman , yang di ambalau, merakai, sei ayak, sanggau salam semuanya.

Wagiran, amd.kep

Sabtu, 18 September 2010

Lowongan Pekerjaan Di Perusahaan

5 komentar


Assalamualaikum Warohmatullohi Wa Barokatuh

Bagaimana kabarnya teman-teman perawat.
Oh ya Sebelumnya SELAMAT KEPADA MAHASISWA AKPER SINTANG ANGKATAN VII YANG AKAN DI WISUDA AKHIR BULAN INI.

Sebagai Informasi dibutuhkan tenaga kesehatan ( Perawat ) untuk menjadi tenaga kesehatan di sebuah perusahaan di daerah Sanggau. Bagi yang berminat segera masukkan lamaran yang ditujukan :

Kepada
Pimpinan PT. Agro Abadi Cemerlang
di Tayan

Atau langsung ke kantor pusat
PT. Bintang Harapan Desa
Meliau
Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat


Info lebih lanjut hubungi saya di 085252182090

Gambaran :

Gaji di atas 1 juta (masih bisa di perjuangkan untuk lebih)
Medan/ Jalan Mulus
Rumah dinas, listrik dan air siap pakai
Kendaraan Pribadi
Sinyal susah dianjurkan pake indosat
Dibutuhkan 1 Orang.

Semoga Informasi ini bermanfaat

Wagiran, Amd.Kep

Rabu, 08 September 2010

Berhari Raya yang Benar

0 komentar


Assalamualaikum waroh matullhi wabarokatuh

Masya Allah sudah sebulan pnuh kita berpuasa di bulan ramadhan. Hari ini terkahir kita berpuasa, sudah banyak sms masuk tentang ucapan selamat hari raya, sampai penuh mmori pesan. nah pada kesempatan ini saya akan postingkan apa sebenarnyayang harus kita lakukan di hari raya ini. semoga ini bermanfaat b isa memberikan kita pengetahuan yang benar. sehingga ibadah kita tidak sia-sia.

Bismillahirrohma nirrohiiim.

BIMBINGAN BERHARI RAYA IDUL FITHRI

Oleh
Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro

MENGAPA DINAMAKAN ‘ID?
Secara bahasa, ‘Id ialah sesuatu yang kembali dan berulang-ulang. Sesuatu yang biasa datang dan kembali dari satu tempat atau waktu.

Kemudian dinamakan ‘Id, karena Allah kembali memberikan kebaikan dengan berbuka, setelah kita berpuasa dan membayar zakat fithri. Dan dengan disempurnakannya haji, setelah diperintahkan thawaf dan menyembelih binatang kurban. Karena, biasanya pada waktu-waktu seperti ini terdapat kesenangan dan kebahagiaan.

As Suyuthi rahimahullah berkata,”’Id merupakan kekhususan umat ini. Keberadaan dua hari ‘Id, merupakan rahmat dari Allah kepada ummat ini. Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, ia berkata,”Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke Madinah, dan penduduk Madinah mempunyai dua hari raya. Pada masa Jahiliyyah, mereka bermain pada dua hari raya tersebut. Beliau bersabda, ’Aku datang dan kalian mempunyai dua hari, yang kalian bermain pada masa Jahiliyah. Kemudian Allah mengganti dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr dan hari Fithri’.” [Dr. Abdullah Ath Thayyar, Ahkam Al ‘Idain Wa ‘Asyri Dzil Hijjah, hlm. 9].

HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN PADA HARI ‘ID
Ada beberapa amalan yang disunnahkan bagi kita pada hari yang berbahagia ini, diantaranya:

1. Mandi.
Pada hari ‘Id, disunnahkan untuk mandi. Karena pada hari tersebut kaum muslimin akan berkumpul, maka disunnahkan mandi seperti pada hari Jum’at. Namun, apabila seseorang hanya berwudhu’ saja, maka sah baginya. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, 3/257). Dan kaifiyatnya seperti mandi janabat.
Nafi’ menceritakan, dahulu, pada ‘Idul Fithri, Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma mandi sebelum berangkat ke tanah lapang. [Diriwayatkan Imam Malik dalam Al Muwaththa’, 1/177].

Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah berkata,”Sunnah pada hari ‘Idul Fithri ada tiga. (Yaitu): berjalan kaki menuju tanah lapang, makan sebelum keluar rumah dan mandi. [Irwa’ul Ghalil, 2/104].

2. Berhias Sebelum Berangkat Shalat ‘Id.
Disunnahkan untuk membersihkan diri dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pada hari ‘Id, Beliau mengenakan burdah warna merah". [Ash Shahihah, 1.279].

Imam Malik rahimahullah berkata,”Saya mendengar Ahlul Ilmi, mereka menganggap sunnah memakai minyak wangi dan berhias pada hari ‘Id.” [Al Mughni, 3/258].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, ketika keluar pada shalat dua hari raya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenakan pakaian yang terindah. Beliau memiliki hullah yang dikenakannya untuk dua hari raya dan hari Jum,at. Suatu waktu, Beliau mengenakan dua pakaian hijau, dan terkadang mengenakan burdah (kain selimut warna merah)." [Zaadul Ma’ad, 1/426].

Sedangkan bagi kaum wanita, tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan baju yang mewah, atau mengenakan minyak wangi. Dan hendaknya, mereka menjauh dari kaum lelaki agar tidak menimbulkan fitnah, sebagaimana realita yang kita lihat pada zaman sekarang.

3. Makan Sebelum Shalat ‘Idul Fithri.
Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar untuk shalat ‘Idul Fithri, sehingga Beliau makan beberapa kurma". [HR Al Bukhari].

Dan dari Buraidah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar pada hari ‘Idul Fithri, sehingga Beliau makan. Dan Beliau tidak makan pada hari ‘Idul Adh-ha, sehingga Beliau pulang ke rumah, kemudian makan dari daging kurbannya".[HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, sebelum keluar untuk shalat ‘Idul Fithri, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam makan beberapa kurma, dengan jumlah yang ganjil. Dan pada hari ‘Idul Adh-ha, Beliau tidak makan sehingga kembali dari tanah lapang, maka Beliau makan dari daging kurbannya." [Zaadul Ma’ad, 1/426].

4. Mengambil Jalan Yang Berbeda Ketika Berangkat Dan Pulang Dari Shalat ‘Id.
Disunnahkan untuk menyelisihi jalan, yaitu dengan mengambil satu jalan ketika berangkat menuju shalat ‘Id, dan melewati jalan yang lain ketika pulang dari tanah lapang.

Dari Jabir Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika hari ‘Id, Beliau mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang". [HR Al Bukhari di dalam Bab Al ‘Idain]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dengan berjalan kaki, dan beliau menyelisihi jalan; (yaitu) berangkat lewat satu jalan dan kembali lewat jalan yang lain". [Zaadul Ma’ad, 1/432].

Hukum mengambil jalan yang berbeda ini hanya khusus pada dua hari ‘Id. Tidak disunnahkan untuk amalan lainnya, seperti shalat Jum’ah, sebagaimana disebutkan Ibnu Dhuwaiyan di dalam kitab Manarus Sabil 1/151. Atau dalam masalah amal shalih yang lain, Imam An Nawawi menyebutkan di dalam kitab Riyadhush Shalihin, bab disunnahkannya pergi ke shalat ‘Id, menjenguk orang sakit, pergi haji, perang, mengiringi jenazah dan yang lainnya dengan mengambil jalan yang berbeda, supaya memperbanyak tempat-tempat ibadahnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal seperti ini tidak bisa diqiaskan. Terlebih lagi amalan-amalan tersebut ada pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan tidak pernah dinukil bahwa Beliau mengambil jalan yang berbeda, kecuali pada dua hari ‘Id. Kita mempunyai satu kaidah yang penting bagi thalibul ilmi, segala sesuatu yang ada sebabnya pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Beliau tidak mengerjakannya, maka amalan tersebut tertolak”. Hingga Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Maka yang benar, ialah pendapat yang mengatakan, mengambil jalan yang berbeda, khusus pada dua shalat ‘Id saja, sebagaimana yang zhahir dari perkataan muallif -Al Hajjawi di dalam Zaadul Mustaqni’- karena ia tidak menyebutkan pada hari Jum’at, tetapi hanya menyebutkan pada dua hari ‘Id. Hal ini menunjukkan, bahwa dia memilih pendapat tidak disunnahkannya mengambil jalan yang berbeda, kecuali pada dua hari ’Id”. [Asy Syarhul Mumti’, 5/173-175].

5. Bertakbir.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan supaya kalian sempurnakan hitungan Ramadhan dan bertakbirlah karena yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian, semoga kalian bersyukur". [Al Baqarah:185].

Waktu bertakbir dimulai setelah terlihatnya hilal bulan Syawwal, hal ini jika memungkinkan. Dan jika tidak mungkin, maka dengan datangnya berita, atau ketika terbenamnya matahari pada tanggal 30 Ramadhan. Kemudian, takbir ini hingga imam selesai dari khutbah ‘Id. Demikian menurut pendapat yang benar, diantara pendapat Ahlul Ilmi. Akan tetapi, kita tidak bertakbir ketika mendengarkan khutbah, kecuali jika mengikuti takbirnya imam. Dan ditekankan untuk bertakbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang, atau ketika menunggu imam datang. [Ahkamul ‘Idain, 24].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Takbir pada hari Idul Fithri dimulai ketika terlihatnya hilal, dan berakhir dengan selesainya ‘Id. Yaitu ketika imam selesai dari khutbah, (demikian) menurut pendapat yang benar". [Majmu’ Fatawa, 24/220, 221].

Adapun sifat (shighat) takbir, dalam hal ini terdapat keluasan. Telah datang satu riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, bahwa ia bertakbir pada hari hari tasyriq dengan genap (dua kali) mengucapkan lafadz Allahu Akbar. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan sanadnya shahih, akan tetapi disebutkan di lafadz yang lain dengan tiga kali.

Tidak selayaknya bertakbir secara jama’i, yaitu berkumpul sekelompok orang untuk melafadzkan dengan satu suara, atau satu orang memberi komando kemudian diikuti sekelompok orang tersebut. Karena, amalan seperti ini tidak pernah dinukil dari Salaf. Yang sunnah, setiap orang bertakbir sendiri-sendiri. Seperti ini pula pada setiap dzikir, atau ketika memanjatkan do’a-do’a yang masyru’ pada setiap waktu. [Ahkamul ‘Idain, Ath Thayyar, hlm. 30].

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata: "Patut untuk diberi peringatan pada saat sekarang ini, bahwa mengeraskan suara ketika bertakbir tidak disyari’atkan secara berjama’ah dengan satu suara, sebagaimana yang dikerjakan oleh sebagian orang. Demikian pula pada setiap dzikir yang dibaca dengan keras atau tidak, maka tidak disyari’atkan untuk berjama’i. Hendaknya kita waspada terhadap masalah ini" [Silsilah Al Ahadits Shahihah, 1/121].

HUKUM SHALAT ID
Hukum shalat ‘Id adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang untuk mengerjakannya. Dari Ummu ‘Athiyyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata:

"Nabi memerintahkan kepada kami (kaum wanita) untuk keluar mengajak ‘awatiq (wanita berusia muda) dan gadis yang dipingit. Dan Beliau memerintahkan wanita haid untuk menjauhi mushalla (tempat shalat) kaum muslimin". [Muttafaqun ‘alaih].

Dahulu, Rasululllah Shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa menjaga untuk mengerjakan shalat ‘Id. Ini merupakan dalil wajibnya shalat ‘Id. Dan karena shalat ‘Id menggugurkan kewajiban shalat Jum’at, jika ‘Id jatuh pada hari Jum’at. Sesuatu yang bukan wajib, tidak mungkin akan menggugurkan satu kewajiban yang lain. Lihat At Ta’liqat Ar Radhiyah, Syaikh Al Albani, 1/380.

Pendapat yang mengatakan bahwa shalat ‘Id adalah fardhu ‘ain, merupakan madzhab Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Begitu pula pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dia mengatakan di dalam Majmu’Fatawa (23/161), sebagai berikut: “Oleh karena itu, kami merajihkan bahwa hukum shalat ‘Id adalah wajib ‘ain. Adapun pendapat yang mengatakan tidak wajib, adalah perkataan yang sangat jauh dari kebenaran, karena shalat ‘Id termasuk syi’ar Islam yang terbesar. Kaum muslimin yang berkumpul pada hari ini, lebih banyak daripada hari Jum’at. Demikian pula disyari’atkan pada hari itu untuk bertakbir. Adapun pendapat yang mengatakan hukumnya fardhu kifayah, tidak tepat”.

WAKTU SHALAT ‘IDUL FITHRI
Sebagian besar Ahlul Ilmi berpendapat, bahwa waktu shalat ‘Id adalah setelah terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari. Yakni waktu Dhuha.

Juga disunnahkan untuk mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri, agar kaum muslimin memperoleh kesempatan menunaikan zakat fithri.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dahulu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri dan menyegerakan shalat ‘idul Adh-ha. Sedangkan Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, seorang sahabat yang sangat berpegang kepada Sunnah. Dia tidak keluar hingga terbit matahari”. [Zaadul Ma’ad, 1/427].

TEMPAT MENDIRIKAN SHALAT ‘ID
Disunnahkan mengerjakan shalat ‘Id di mushalla. Yaitu tanah lapang di luar pemukiman kaum muslimin, kecuali jika ada udzur. Misalnya, seperti: hujan, angin yang kencang dan lainnya, maka boleh dikerjakan di masjid.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Mengerjakan shalat ‘Id di tanah lapang adalah sunnah, karena dahulu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm keluar ke tanah lapang dan meninggalkan masjidnya. Demikian pula khulafaur rasyidin. Dan ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Mereka telah sepakat di setiap zaman dan tempat untuk keluar ke tanah lapang ketika shalat ‘Id”. [Al Mughni, 3/260].

TIDAK ADA ADZAN DAN IQAMAH SEBELUM SHALAT ‘ID
Dari Ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallahu 'anhuma, keduanya berkata:

"Tidak pernah adzan pada hari ‘Idul Fithri dan hari ‘Idul Adh-ha". [HR Al Bukhari dan Muslim]

Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Saya shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada dua hari raya, sekali atau dua kali, tanpa adzan dan tanpa iqamat". [HR Muslim].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dahulu, ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sampai ke tanah lapang, Beliau memulai shalat tanpa adzan dan iqamat ataupun ucapan “ash shalatu jami’ah”. Dan yang sunnah, untuk tidak dikerjakan semua itu”. [Zaadul Ma’ad, 1/427].

SHIFAT SHALAT ‘ID
Shalat ‘Id, dikerjakan dua raka’at, bertakbir di dalam dua raka’at tersebut 12 kali takbir, 7 pada raka’at yang pertama setelah takbiratul ihram dan sebelum qira’ah, dan 5 takbir pada raka’at yang kedua sebelum qira’ah.

"Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir pada dua shalat ‘Id tujuh kali pada raka’at pertama, dan lima kali pada raka’at yang kedua". [HR Ibnu Majah].

"Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir pada shalat ‘Idul Fithri dan shalat ‘Idul Adh-ha tujuh kali dan lima kali, selain dua takbir ruku". [HR Abu Dawud, Ibnu Majah. Lihat Irwa’ul Ghalil, 639].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Beliau memulai shalat ‘Id sebelum berkhutbah. Beliau shalat dua raka’at. Bertakbir pada raka’at yang pertama, tujuh kali takbir yang beruntun setelah takbir iftitah. Beliau diam sejenak antara dua takbir. Tidak diketahui dzikir tertentu antara takbir-takbir ini. Akan tetapi (ada) disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu memuji Allah, menyanjungNya dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam (diantara dua takbir tersebut), sebagaimana disebutkan oleh Al Khallal. Dan Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma merupakan seorang sahabat yang sangat tamassuk (berpegang teguh) dengan Sunnah. Beliau mengangkat kedua tangannya setiap kali takbir. Dan setelah menyempurnakan takbirnya, Nabi memulai qira’ah. Beliau membaca Al Fatihah, kemudian membaca surat Qaaf pada salah satu raka’at. Pada raka’at yang lain, membaca surat Al Qamar. Terkadang membaca surat Al A’laa dan surat Al Ghasyiyah. Telah sah dari Beliau dua hal ini, dan tidak sah riwayat yang menyatakan selainnya.

Ketika selesai membaca, Beliau bertakbir dan ruku’. Kemudian, apabila telah menyempurnakan raka’at yang pertama, Beliau bangkit dari sujud dan bertakbir lima kali secara beruntun. Setelah itu Beliau membaca. Maka takbir merupakan pembuka di dalam dua raka’at, kemudian membaca, dan setelah itu ruku’”. [Zaadul Ma’ad, 1/427].

APAKAH ADA SHALAT SUNNAH SEBELUM DAN SESUDAH ‘ID?
Tidak disunnahkan shalat sunnah sebelum dan sesudah ‘Id. Disebutkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma:

"Sesungguhnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat ‘Idul Fithri dua raka’at, tidak shalat sebelumnya atau sesudahnya" [HR Al Bukhari].

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Sama sekali tidak ada satu shalat sunnah saat sebelum atau sesudah ‘Id”. Kemudian dia ditanya: “Bagaimana dengan orang yang ingin shalat pada waktu itu?” Dia menjawab: “Saya khawatir akan diikuti oleh orang yang melihatnya. Ya’ni jangan shalat”. [Al Mughni, Ibnu Qudamah 3/283].

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Kesimpulannya, pada shalat ‘Id tidak ada shalat sunnah sebelum atau sesudahnya, berbeda dari orang yang mengqiyaskan dengan shalat Jum’ah. Namun, shalat sunnah muthlaqah tidak ada dalil khusus yang melarangnya, kecuali jika dikerjakan pada waktu yang makruh seperti pada hari yang lain". [Fath-hul Bari, 2/476].

Apabila shalat ‘Id dikerjakan di masjid karena adanya udzur, maka diperintahkan shalat dua raka’at tahiyyatul masjid. Wallahu a’lam.

APABILA SESEORANG TERTINGGAL DARI SHALAT ‘ID, APAKAH PERLU MENGQADHA?
Dalam masalah ini, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan di dalam Asy Syarhul Mumti’ 5/208: "Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat tidak diqadha. Orang yang tertinggal atau luput dari shalat ‘Id, tidak disunnahkan untuk mengqadha’nya, karena hal ini tidak pernah ada dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan karena shalat ‘Id merupakan shalat yang dikerjakan dengan berkumpul secara khusus. Oleh sebab itu tidak disyari’atkan, kecuali dengan cara seperti itu".

Kemudian beliau Syaikh Ibnu Utsaimin juga berkata: "Shalat Jum’at juga tidak diqadha. Tetapi, bagi orang yang tertinggal, (ia) mengganti shalat Jum’at dengan shalat fardhu pada waktu itu. Yaitu Dhuhur. Pada shalat ‘Id, apabila tertinggal dari jama’ah, maka tidak diqadha, karena pada waktu itu tidak terdapat shalat fardhu ataupun shalat sunnah".

KHUTBAH ‘IDUL FITHRI
Dalam Shahihain dan yang lainnya disebutkan:

"Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar ke tanah lapang pada ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Pertama kali yang Beliau kerjakan ialah shalat, kemudian berpaling dan berdiri menghadap sahabat, dan mereka tetap duduk di barisan mereka. Kemudian Beliau memberikan mau’izhah, wasiat dan memerintahkan mereka". [HR Al Bukhari dan Muslim].

Dalam masalah khutbah ‘Id ini, seseorang tidak wajib mendengarkannya. Dibolehkan untuk meninggalkan tanah lapang seusai shalat. Tidak sebagaimana khutbah Jum’ah, yang wajib bagi kita untuk menghadirinya.

Di dalam hadits Abdullah bin As Sa’id Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

"Saya menyaksikan shalat ‘Id bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika selesai, Beliau berkata: “Kami sekarang berkhutbah. Barangsiapa yang mau mendengarkan, silahkan duduk. Dan barangsiapa yang mau, silahkan pergi". [Dikeluarkan oleh Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah. Lihat Irwa’ul Ghalil 3/96]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, apabila Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyempurnakan shalat, Beliau berpaling dan berdiri di hadapan para sahabat, sedangkan mereka duduk di barisan mereka. Beliau memberikan mau’izhah, wasiat dan memerintahkan dan melarang mereka. Beliau membuka khuthbah-khutbahnya dengan memuji Allah. Tidak pernah diriwayatkan -dalam satu haditspun- bahwasanya Beliau membuka dua khutbah pada ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adh-ha dengan bertakbir. Dan diberikan rukhshah bagi orang yang menghadiri ‘Id untuk mendengarkan khutbah atau pergi". [Zaadul Ma’ad, 1/429].

APABILA HARI ‘ID BERTEPATAN DENGAN HARI JUM’AT
Apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka kewajiban shalat Jum’at bagi orang yang telah menghadiri ‘Id menjadi gugur. Tetapi bagi penguasa, sebaiknya memerintahkan agar didirikan shalat Jum’at, supaya dihadiri oleh orang yang tidak menyaksikan ‘Id atau bagi yang ingin menghadiri Jum’at dari kalangan orang-orang yang telah shalat ‘Id. Dan sebagai pengganti Jum’at bagi orang yang tidak shalat Jum’at, adalah shalat Dhuhur. Tetapi yang lebih baik, ialah menghadiri keduanya. [Lihat Ahkamul ‘Idain, Ath Thayyar, hlm. 18; Majalis ‘Asyri Dzil Hijjah, Syaikh Abdullah Al Fauzan, hlm. 107].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau berkata:

"Telah berkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau, maka shalat ‘Id telah mencukupi dari Jum’at. Akan tetapi, kami mengerjakan shalat Jum’at". [HR Abu Dawud, Ibnu Majah]

MENGUCAPKAN SELAMAT PADA HARI ‘ID
Syaikhul Islam ditanya tentang mengucapkan selamat pada hari ‘Id. Beliau menjawab:

“Mengucapkan selamat pada hari ‘Id; apabila seseorang bertemu saudaranya, kemudian dia berkata Taqobalallohu minna wa minka (semoga Allah menerima amal kebaikan dari kami dan dari kalian), atau Ahalallohu a"laika (semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda), atau semisalnya, dalam hal seperti ini telah diriwayatkan dari sekelompok diantara para sahabat, bahwa mereka dahulu mengerjakannya. Dan diperperbolehkan oleh Imam Ahmad dan selainnya. Imam Ahmad berkata,’Saya tidak memulai seseorang dengan ucapan selamat ‘Id. Namun, jika seseorang menyampaikan ucapan selamat kepadaku, aku akan menjawanya, karena menjawab tahiyyah hukumnya wajib. Adapun memulai ucapan selamat ‘Id bukan merupakan sunnah yang diperintahkan, dan tidak termasuk sesuatu yang dilarang. Barangsiapa yang mengerjakannya, maka ada contohnya. Dan bagi orang yang tidak mengerjakannya, ada contohnya juga". [Majmu’ Fatawa, 24/253, lihat juga Al Mughni, 3/294].
Wallahu a’lamu bish shawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VIII/1425/2004M.

Wagiran, Amd.Kep

semoga bermanfaat